Rusia Lanjutkan Perang hingga 2026, Tembakkan 200 Drone ke Ukraina, Targetkan Infrastruktur Energi - Tribunnews
Rusia Lanjutkan Perang hingga 2026, Tembakkan 200 Drone ke Ukraina, Targetkan Infrastruktur Energi - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
- Zelensky menyebut Rusia melancarkan dengan lebih dari 200 drone yang ditembakkan ke Ukraina, terutama menargetkan infrastruktur energi.
- Menurut kepala wilayah Oleh Kiper, Rusia menyerang wilayah Odesa dalam beberapa gelombang serangan pesawat tak berawak.
- Angkatan udara Ukraina mengatakan pasukan pertahanan udara telah menembak jatuh atau menekan 176 dari 205 drone yang menargetkan negara itu.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, Rusia melanjutkan perangnya "hingga Tahun Baru", Kamis (1/1/2026).
Konflik kedua negara dimulai dengan invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2014 dan meningkat menjadi perang skala penuh yang dimulai pada 24 Februari 2022.
Dilansir euronews, Zelensky menyebut Rusia melancarkan dengan lebih dari 200 drone yang ditembakkan ke Ukraina, terutama menargetkan infrastruktur energi.
"Rusia sengaja membawa perang ke Tahun Baru – meluncurkan lebih dari dua ratus drone serang terhadap Ukraina dalam semalam," ujar Zelensky di media sosial, menambahkan bahwa "targetnya adalah infrastruktur energi kami."
Sementara, menurut kepala wilayah Oleh Kiper, Rusia menyerang wilayah Odesa dalam beberapa gelombang serangan pesawat tak berawak.
Dalam sebuah unggahan di Telegram, Kiper mengatakan bahwa sebuah bangunan tempat tinggal dua lantai mengalami kerusakan dan sebuah drone menabrak sebuah apartemen di lantai 17 sebuah gedung tinggi tanpa meledak.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Dalam laporan hariannya, angkatan udara Ukraina mengatakan pasukan pertahanan udara telah menembak jatuh atau menekan 176 dari 205 drone yang menargetkan negara itu.
Dikatakan bahwa 24 drone serang berhasil mengenai sasaran di 15 lokasi dan serangan masih berlangsung.
Serangan Rusia saat Tahun Baru
Serangan pesawat tak berawak Ukraina menewaskan 24 orang dan melukai 50 lainnya saat mereka merayakan Tahun Baru di sebuah desa yang diduduki Rusia di wilayah Kherson, Ukraina.
Hal ini disampaikan para pejabat Rusia pada Kamis, seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara meskipun para diplomat memuji perundingan perdamaian yang produktif.
Tiga drone menyerang sebuah kafe dan hotel di kota wisata Khorly di pantai Laut Hitam, kata pemimpin wilayah yang ditunjuk Moskow, Vladimir Saldo, dalam sebuah pernyataan di Telegram.
Dia mengatakan bahwa salah satu drone membawa campuran bahan pembakar, yang memicu kebakaran.
Para pejabat Ukraina tidak segera memberikan komentar terkait klaim serangan tersebut.
Serangan itu tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Associated Press.
Serangan itu juga dikecam oleh sejumlah pejabat Rusia.
Valentina Matviyenko, ketua majelis tinggi parlemen Rusia, Dewan Federasi, mengatakan bahwa serangan itu "memperkuat" tekad Rusia untuk segera mencapai tujuannya dalam invasi hampir empat tahun ke Ukraina.
"Aksi mogok ini sekali lagi menunjukkan validitas tuntutan awal kami," kata Matviyenko.
Pernyataan tersebut menyusul klaim dari Moskow bahwa Ukraina melancarkan serangan pesawat tak berawak jarak jauh terhadap salah satu kediaman resmi Presiden Rusia Vladimir Putin di barat laut Rusia pada Selasa (30/12/2025) lalu.
Namun, Kyiv mengecam klaim tersebut sebagai "kebohongan."
Pada Rabu (31/12/2025), Kementerian Pertahanan Rusia merilis video sebuah drone yang ditembak jatuh.
Rekaman malam hari itu menunjukkan seorang pria berseragam kamuflase, helm, dan rompi Kevlar berdiri di dekat sebuah drone yang rusak tergeletak di salju.
Pria itu, dengan wajah tertutup, berbicara tentang drone tersebut.
Baik pria itu maupun Kementerian Pertahanan tidak memberikan lokasi atau tanggal apa pun, dan baik video maupun klaimnya tidak dapat diverifikasi secara independen.
Kyiv menyebut tuduhan serangan terhadap kediaman Putin sebagai tipu daya untuk menggagalkan negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung, yang telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir di kedua sisi Atlantik.
(Tribunnews.com/Nuryanti)