0
News
    Home Berita Featured Kemlu PBB Spesial

    PBB Terancam Bangkrut, Kemlu: Indonesia Sudah Bayar Iuran - Kompas

    4 min read

      

    PBB Terancam Bangkrut, Kemlu: Indonesia Sudah Bayar Iuran

    JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merespons soal kondisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sedang mengalami krisis keuangan serius.

    Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengatakan, Indonesia sudah memenuhi kewajiban untuk membayar uang iuran anggota.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Dari Indonesia yang dapat disampaikan adalah kita telah melaksanakan kewajiban kita. Kontribusi kita terhadap PBB itu telah kita bayarkan secara full,” kata Yvonne, di Gedung Pancasila, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

    Yvonne mengatakan, posisi Indonesia saat ini adalah mendorong negara-negara anggota memenuhi kontribusi mereka.

    Kapolri Kenang Pesan Eyang Merry, Lanjutkan Teladan Jenderal Hoegeng

    Baca juga: Kemlu Terima 3.100 Aduan WNI Terkait Sindikat Penipuan Daring di Kamboja

    Dia mengatakan, PBB juga sudah menyurati seluruh negara anggota untuk memenuhi kewajiban iuran tersebut.

    “Indonesia kita sudah ada iuran, kontribusi khususnya kan dan itu sudah dibayarkan. Suratnya cukup panjang gitu mengimbau ke negara-negara anggota yang belum membayar kontribusi untuk bisa membantu situasi keuangan yang saat ini ada di UN,” ujar dia.

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa organisasi dunia tersebut berada di ambang krisis keuangan serius.

    PBB bahkan berpotensi kehabisan dana operasional pada Juli.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Dia pun meminta negara-negara anggota untuk memenuhi kewajiban keuangan mereka, sebagaimana dilansir AFP.

    Baca juga: Menhan Tunggu Arahan Kemlu soal Iuran Wajib Dewan Perdamaian Buatan Trump

    Peringatan itu disampaikan Guterres dalam sebuah surat kepada negara anggota PBB pada Jumat (30/1/2026), di tengah persoalan anggaran kronis yang terus membelit organisasi internasional tersebut.

    Menurut Guterres, masalah utama keuangan PBB berasal dari sejumlah negara anggota yang tidak membayar kontribusi wajib secara penuh atau tidak melunasinya tepat waktu.

    Sehingga, hal tersebut memaksa organisasi dunia itu menerapkan pembekuan perekrutan dan melakukan pemangkasan anggaran di berbagai sektor.

    Baca juga: Ini Kata Kemlu soal Status Kewarganegaraan Kezia Syifa yang Jadi Tentara Amerika

    “Entah semua negara anggota menghormati kewajiban mereka untuk membayar secara penuh dan tepat waktu, atau negara anggota harus secara mendasar merombak aturan keuangan kami untuk mencegah keruntuhan keuangan yang akan segera terjadi," tulis Guterres, dalam surat tersebut.

    Ia menegaskan, kondisi keuangan PBB saat ini tidak berkelanjutan dan menempatkan organisasi pada risiko struktural yang semakin besar.

    “Arah perkembangan saat ini tidak berkelanjutan. Hal ini membuat organisasi rentan terhadap risiko keuangan struktural," tulis dia.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS