Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Fenomena Fenomena Alam Spesial

    Robot Bawah Laut Ungkap 60 Juta Sarang Ikan Raksasa di Antartika - Kompas

    6 min read

     


    KOMPAS.com - Sebuah kendaraan bawah air otonom bernama LASSIE menghabiskan waktu 48 jam nonstop memantau dasar laut di bawah Filchner Ice Shelf, Antartika.

    Hasilnya mengonfirmasi bahwa koloni yang diperkirakan berisi 60 juta sarang aktif masih berada di tempatnya di Laut Weddell.

    Survei dilakukan oleh Alfred Wegener Institute (AWI). Nama LASSIE merupakan singkatan dari Low Altitude Survey System for Icefish, robot yang dikirim untuk memeriksa kondisi salah satu koloni pembiakan ikan terbesar yang pernah diketahui di Bumi.

    Baca juga: 40 Tahun di Laci, Fosil Ini Ternyata Dinosaurus Pertama Antartika

    Peneliti pertama kali memetakan koloni ini pada 2022, mencatat sarang tersebar di area seluas 240 kilometer persegi.

    Susul SpaceX, Roket China Berhasil Mendarat Perdana di Platform Laut

    Data yang dikumpulkan selama musim semi Antartika terbaru menunjukkan bahwa kepadatan sarang tetap stabil sejak penghitungan awal tersebut, dengan rata rata satu sarang per empat meter persegi di sepanjang jalur survei.

    Data terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Marine Science juga menunjukkan, suhu dasar laut 2 derajat Celsius lebih hangat dibanding air sekitarnya, kondisi yang dibutuhkan telur ikan agar bisa berkembang.

    Skala Koloni yang Terkonfirmasi

    Kamera beresolusi tinggi LASSIE menangkap 20 gambar per detik, menunjukkan sarang berukuran sekitar 75 sentimeter dengan rata rata 1.700 telur di dalamnya.

    Ikan jantan terlihat menjaga hampir 85 persen sarang di kawasan Filchner Trough, tanda adanya tekanan predasi yang nyata terhadap telur telur tersebut.

    LASSIE mempertahankan ketinggian 1,5 meter di atas dasar laut sambil memetakan medan menggunakan sonar dan pemindai laser. Jarak antar sarang rata rata hanya 22 sentimeter, kepadatan yang tergolong luar biasa untuk area seluas ini. Total biomassa koloni diperkirakan mencapai sekitar 60.000 ton.

    Air Hangat yang Jadi Penentu

    Lokasi ini berada di jalur naiknya Modified Upper Circumpolar Deep Water (mUCDW) ke landas kontinen, yang mencegah dasar laut mencapai titik beku.

    Aliran inilah yang membentuk kondisi yang memungkinkan koloni ini terbentuk sejak awal.

    Studi ini menemukan bahwa ikan es Jonah (Neopagetopsis ionah) secara selektif membangun sarang di titik dengan suhu air antara 0 hingga 0,5 derajat Celsius.

    Rentang suhu sempit ini tampaknya sangat penting agar telur-telur mereka bisa berkembang dengan baik.

    Dikutip Daily Galaxy, ikan es tergolong hewan vertebrata yang tidak biasa karena sama sekali tidak memiliki hemoglobin maupun sel darah merah.

    Adaptasi langka ini mengurangi kekentalan darah dan memungkinkan mereka bertahan hidup di air bersuhu di bawah nol derajat, meski hal ini juga membuat mereka sangat bergantung pada arus air kaya oksigen yang mengalir melewati insang mereka.

    Dokumentasi dari lokasi ini menunjukkan bahwa arus Filchner Trough menyuplai aliran air beroksigen secara stabil ke seluruh kawasan penetasan. Arus tersebut menopang puluhan juta embrio yang sedang berkembang selama masa inkubasi mereka.

    Baca juga: Rahasia Misterius Ikan Es Antartika, Satu-satunya Hewan Berdarah Bening

    Konstruksi Sarang dan Ekosistem Lokal

    Rekaman LASSIE mengonfirmasi bahwa konstruksi sarang bervariasi, meski sebagian besar mengikuti pola dasar yang sama. Setiap sarang berbentuk cekungan melingkar yang dibersihkan dari sedimen halus, sehingga memperlihatkan dasar berupa kerikil dan batu batu kecil di bawahnya.

    Struktur ini menstabilkan telur telur di dalamnya dan mencegahnya terseret oleh arus yang lewat. Desainnya sederhana, namun tampak konsisten pada hampir seluruh sarang yang disurvei.

    Pembacaan sensor menunjukkan kadar lumpur di dalam sarang sekitar 40 persen lebih rendah dibanding dasar laut sekitarnya yang tidak terganggu. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa ikan ikan tersebut secara aktif merawat sarangnya, bukan sekadar menggalinya sekali lalu ditinggalkan.

    Survei ini juga mendokumentasikan bangkai dan sarang sarang yang ditinggalkan di sepanjang tepi koloni. Area area ini menarik hewan pemakan bangkai, termasuk bintang laut, bintang laut rapuh, dan berbagai krustasea lain yang memakan sisa sisa bahan organik.

    Konsentrasi bahan organik tersebut menciptakan ekosistem lokal yang jauh lebih beragam dibanding dataran laut dalam di sekitarnya, tempat sumber makanan semacam itu sangat langka.

    Baca juga: Ilmuwan Paparkan Dampak Jangka Panjang Pencairan Es Antartika

    Anjing Laut Weddell dan Dorongan untuk Perlindungan

    Anjing laut Weddell merupakan predator utama koloni ini, dan tim AWI membandingkan rekaman LASSIE dengan rekaman akustik dari hidrofon yang dipasang di lokasi tersebut. Kedua kumpulan data ini bersama sama memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana anjing laut memanfaatkan koloni ini.

    Data menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara puncak musim pemijahan dan meningkatnya vokalisasi anjing laut di sekitar lokasi. Pola ini konsisten terlihat di seluruh rekaman yang dikumpulkan selama survei.

    Pelacakan satelit menunjukkan bahwa 90 persen aktivitas menyelam anjing laut di kawasan Laut Weddell ini terjadi tepat di atas koordinat koloni. Sensor hidrofon juga mencatat lebih dari 2.000 kali penyelaman anjing laut yang mencapai kedalaman 400 hingga 500 meter hanya selama bulan November.

    Skala koloni ini serta peran ekologisnya telah mendorong munculnya usulan untuk menjadikan kawasan ini sebagai Marine Protected Area (MPA), yang diajukan kepada Commission for the Conservation of Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR).

    Usulan tersebut menyoroti kerentanan lokasi ini terhadap penangkapan ikan dasar laut menggunakan pukat harimau, serta risiko yang mungkin ditimbulkan oleh perubahan sirkulasi air dalam akibat iklim terhadap koloni ini di masa depan.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS