Santunan ke Anak Satpam Lebih Rendah dari Anak Maling, Dedi Mulyadi Bantah Pilih Kasih, Ada 3 Alasan - Tribunnews
TRIBUNSTYLE.COM - Penemuan jasad Sumarna (40), seorang petugas keamanan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menyisakan teka-teki besar.
Korban ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi mengambang di kawasan Tanggul Kayat pada Jumat (24/7/2026) menjelang siang.
Kondisi jasad korban saat ditemukan amat mengiris hati, kedua tangannya berada dalam posisi terborgol ke belakang.
Peristiwa memilukan ini bermula ketika Sumarna mendadak hilang kontak dan tak kunjung merespons panggilan rekan kerjanya saat sedang bertugas di shift malam.
Khawatir terjadi sesuatu, tim langsung bergerak melakukan penyisiran ke berbagai titik hingga akhirnya menemukan tubuh Sumarna yang sudah tak bernyawa.
Kepergian Sumarna yang tragis dan misterius ini menghadirkan duka mendalam bagi keluarganya.
Apalagi, almarhum berpulang dengan meninggalkan dua anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan di jenjang sekolah.
Kini, gelombang simpati serta rasa prihatin mengalir deras dari netizen hingga jajaran pejabat publik.
Salah satu bentuk kepedulian ditunjukkan langsung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia memberikan santunan sebesar Rp25 juta kepada keluarga almarhum.
Di sisi lain, Dedi juga memberikan santunan yang lebih besar ke keluarga maling di Tabanan, Bali yakni Rp50 juta.
Perbedaan nominal tersebut membuat Dedi ramai digunjing pilih kasih.
Dedi Mulyadi akhirnya memberi penjelasan. Seperti apa?
Baca juga: Nasib Istri dan Anak Satpam Sumarna yang Tewas di Waduk Jatiluhur, Terima Santunan BPJS Rp418 Juta

Penjelasan Dedi Mulyadi
Akhirnya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjawab tudingan dari publik soal pilih kasih memberikan bantuan kepada dua kasus berbeda.
Gubernur yang karib disapa KDM itu memang tengah disorot lantaran memberikan bantuan dengan nominal berbeda kepada dua kasus yang viral.
Dedi memberikan uang Rp50 juta kepada anak terduga maling di Bali yang ayahnya tewas dikeroyok warga.
Sedangkan untuk kasus satpam diduga dibunuh di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Dedi hanya memberikan bantuan berupa uang tunai Rp25 juta.
Hal itu rupanya jadi perbincangan netizen di media sosial.
"Pak @dedimulyadi71 jujur ini aneh, kenapa yang bukan warga nya sndri di ksh deposito 50jt sedangkan anak satpam yg di purwakarta hanya 25jt? Yg di bali itu istri dan anak nya sudah terjamin, kita yang hanya bisa melihat berita di medsos butuh kepastian tentang anak satpam ini gmna masa depan nya krna jujur kita punya rasa tanggung jawab moral, semoga bisa di UP segera apakah ada jaminan jangka panjang dari pemprov," tulis seorang netizen.
Bak sudah mendengar tudingan tersebut, Dedi akhirnya buka suara.
Lewat postingan di akun media sosialnya, Dedi mengaku sudah tahu bahwa ia tengah jadi perbincangan gara-gara memberikan bantuan dengan nominal berbeda pada dua anak yang kini yatim.
"Hayo sedang apa sekarang, sedang ngomongin perbedaan bantuan pembunuhan sekuriti dan korban pengeroyokan pencuri ayam di Bali ya? saya dianggap membeda-bedakan ya?" tanya Dedi Mulyadi dilansir TribunnewsBogor.com pada Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Sosok Anak Bungsu Sumarna Satpam Waduk Jatiluhur, Tegar Disambangi Dedi Mulyadi, Masih Kelas 4 SD

Diungkap Dedi, ada alasan khusus kenapa ia hanya memberikan Rp25 juta kepada keluarga Sumarna, satpam yang tewas dibunuh.
Ada tiga alasan yang dijabarkan Dedi.
Pertama, Dedi mengaku bahwa dirinya lebih memilih memberikan uang Rp25 juta karena sisanya ia pakai untuk menyelesaikan kewajiban almarhum pada orang lain.
"Waktu itu saya tidak menyerahkan, uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," imbuh Dedi.
Alasan kedua adalah karena Dedi memikirkan pendidikan anak-anak korban.
Dedi memilih untuk mengalihkan bantuan uang tunai ke bantuan pendidikan.
Lagipula kata Dedi, selain bantuan berupa uang, ia juga memberikan bantuan lain yakni menjadikan anak korban sebagai anak asuhnya.
"Kedua, saya berfokus untuk pendidikan anaknya ke depan. Yang besar itu berfokus diselesaikan sekolah SMK dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan di sekitar rumah sehingga bisa menjamin kehidupan ibu dan adiknya," pungkas Dedi.
"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," sambungnya.
Baca juga: Ahli Forensik Bongkar Alasan Pembunuh Satpam di Waduk Jatiluhur Sulit Dilacak, Duga Ada Sosok Cerdas
Alasan terakhir adalah lantaran korban sejatinya sudah memiliki asuransi ketenagakerjaan.
Anak dan istri Sumarna, kata Dedi, bakal diberikan santunan ratusan juta oleh BPJS Ketenagakerjaan.
Karenanya Dedi merasa bantuan Rp25 juta untuk keluarga Sumarna sudah cukup ia berikan.
"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak,"
"Semoga kita sama-sama berfokus menjadi orang yang peduli pada sesama. Terima kasih kalau perbedaan tunai yang saya berikan itu menimbulkan kegaduhan," ungkap Dedi.
Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan
Menyambung pernyataan Dedi Mulyadi soal asuransi milik Sumarna, pihak BPJS Ketenagakerjaan memvalidasinya.
Hari ini, Kamis (30/7/2026) ahli waris Sumarna menerima santunan serta manfaat jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan termasuk beasiswa pendidikan untuk anak korban sebesar Rp418.133.773.
Santunan tersebut diterima oleh istri Sumarna, Siti Maryam.
"BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak ahli waris berupa santunan kurang lebih Rp 418 juta. Jadi, ini merupakan hak dari perlindungan jaminan sosial yang diberikan secara langsung dan tunai," ungkap Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Trisna Sonjaya dikutip dari Kompas.com.
Dua anak Sumarna yang duduk di kelas 12 SMK dan 4 SD pun diberikan beasiswa.
Berikut adalah rincian santunan dari BPJS untuk korban pembunuhan Sumarna:
- Santunan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) meninggal sebesar Rp 264.537.088
- Jaminan Hari Tua (JHT) Rp 10.685.285
- Jaminan Pensiun (JP) sebesar Rp 411.400 per bulan
- Beasiswa bagi dua anak dengan nilai maksimal Rp 142.500.000.
(TribunStyle.com)(TribunnewsBogor.com/khairunnisa)