Antre hingga 4 Jam di SPBU, Sopir Truk di Lampung Keluhkan Sulitnya Solar - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sopir-truk-keluhkan-sulitnya-solar-di-lampung.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rusli, seorang sopir truk pengangkut pasir, harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar.
- Di tengah pekerjaannya mengangkut pasir dari wilayah Gunung Sugih, antrean panjang solar menjadi tantangan tersendiri bagi Rusli.
- Rusli juga mempertanyakan pernyataan bahwa stok solar di Lampung dalam kondisi aman.
- Baca Juga: Gerebek Tiga Lokasi di Telukbetung Timur, Polisi Amankan 3 Pelaku dan 2,02 Gram Sabu
Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Rusli, seorang sopir truk pengangkut pasir, harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Natar, Lampung Selatan, Sabtu (10/10/2026).
Di tengah pekerjaannya mengangkut pasir dari wilayah Gunung Sugih, Lampung Tengah, antrean panjang solar menjadi tantangan tersendiri bagi Rusli.
Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja justru habis menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Rusli mengaku, antrean solar di sejumlah SPBU, khususnya di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, kerap mengular.
Dalam kondisi tertentu, ia harus menunggu hingga tiga sampai empat jam sebelum mendapatkan solar.
"Kadang sampai tiga sampai empat jam baru dapat," kata Rusli saat ditemui di tengah aktivitasnya, Sabtu (10/10/2026).
Bagi Rusli, waktu tunggu yang panjang bukan sekadar persoalan kenyamanan.
Rekomendasi Untuk Anda
Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran pekerjaannya sebagai sopir truk pengangkut pasir.
Ia mengatakan, dalam sehari, solar yang bisa diperolehnya senilai sekitar Rp250 ribu.
Jumlah tersebut terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional kendaraannya.
Di tengah antrean yang panjang, Rusli berharap pemerintah memperbaiki distribusi solar bersubsidi agar lebih tepat sasaran dan mudah diakses masyarakat yang benar-benar membutuhkan bahan bakar untuk bekerja.
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah dugaan praktik pelangsiran solar.
Ia menduga, praktik tersebut membuat sopir yang menggunakan solar untuk menunjang kegiatan usaha justru kesulitan mendapatkan bahan bakar.
"Kalau bisa pemerintah tolonglah kami. Kalau sudah antre begini, bahaya di pinggir jalan. Solar itu didistribusikan dengan baik, terutama pelangsir tolong ditindak," ujarnya.
Rusli menjelaskan, kendaraan yang diduga digunakan untuk melangsir solar antara lain kendaraan yang telah dimodifikasi atau memiliki kapasitas tangki melebihi standar.
Namun, ia menyerahkan pembuktian dugaan tersebut kepada pihak terkait dan meminta pengawasan dilakukan secara langsung.
"Boleh dicek saja di Pertamina sendiri," katanya.
Rusli juga mempertanyakan pernyataan bahwa stok solar di Lampung dalam kondisi aman.
Menurut pengalaman yang ia rasakan sehari-hari, mendapatkan solar masih menjadi persoalan bagi sopir truk yang mengandalkan bahan bakar tersebut untuk bekerja.
"Kalau dibilang aman, sebenarnya aman bagi pelangsir kalau kata saya. Kami yang buat usaha justru susah," tuturnya.
Kesulitan memperoleh solar itu, menurut Rusli, telah dirasakannya dalam waktu yang cukup lama.
Ia menilai kondisi yang dihadapinya saat ini semakin menyulitkan pekerjaan sehari-hari.
Dampaknya tidak berhenti pada antrean BBM. Rusli mengatakan, kenaikan harga solar turut berpengaruh terhadap biaya angkutan pasir yang dijalaninya.
Ia menyebut harga pasir mengalami kenaikan hampir 25 persen.
Sementara itu, pengeluaran selama perjalanan, termasuk untuk makan dan kebutuhan lainnya ketika menunggu antrean, ikut menambah beban biaya operasional.
Di tengah situasi tersebut, Rusli berharap peninjauan distribusi solar oleh Komisi XII DPR RI bersama Gubernur Lampung dapat membawa perubahan nyata bagi para sopir angkutan.
Ia ingin distribusi solar bersubsidi lebih tertib sehingga sopir yang menggunakan BBM untuk menunjang pekerjaan tidak terus kehilangan waktu produktif di antrean SPBU.
Bagi Rusli, kelancaran mendapatkan solar bukan hanya soal mengisi tangki kendaraan.
Hal itu juga berkaitan dengan kelangsungan pekerjaan dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kecamatan Natar adalah salah satu kecamatan terbesar dan paling strategis yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia.
Wilayah ini berfungsi sebagai pintu gerbang utama transportasi udara di Provinsi Lampung sekaligus penyangga bagi pertumbuhan ekonomi Kota Bandar Lampung.
Bandara Internasional Radin Inten II: Fasilitas penerbangan utama Provinsi Lampung ini terletak di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar.
Jalur Pelintasan Utama: Wilayah ini dilalui oleh Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan memiliki akses langsung ke gerbang Tol Trans-Sumatera (Pintu Tol Natar), menjadikannya kawasan yang sangat sibuk bagi mobilitas logistik dan penumpang.
Komisi XII DPR RI Sidak
Sehari sebelumnya, anggota Komisi XII DPR RI bersama Gubernur Lampung, DPRD Lampung, dan jajaran dinas terkait melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bandar Lampung, Jumat (9/10/2026).
Sidak tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Lampung.
Salah satu SPBU yang dikunjungi yakni SPBU 23.351.01 di Jalan Lintas Sumatera, Bandar Lampung.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan berdialog dengan sejumlah sopir truk yang tengah mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM).
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)