Cerita Wanita Umur 31 Sembuh dari Kanker Ganas, Sempat Pasrah Bakal Mati Muda - detik
Di usia 31 tahun, Molly Hones sempat pasrah dan bersiap menghadapi kematian. Setelah tumor besar di hatinya diangkat, kanker langka jenis fibrolamellar carcinoma yang diidapnya telah menjalar hingga ke tulang dan aliran darah, menjadikannya divonis mengidap kanker stadium 4.
Menolak kemoterapi berat yang berisiko memperburuk kualitas hidupnya, Molly awalnya memilih menikmati sisa usianya. Namun, dengan semangat ingin berkontribusi pada ilmu pengetahuan, ia memutuskan mendaftar dalam uji klinis obat eksperimental pada April 2024.
Hanya dalam waktu lima bulan setelah menyuntikkan obat eksperimental tersebut, sebuah keajaiban medis terjadi: Molly mengalami remisi total (sembuh total) dari kankernya. Penyelamat hidupnya bukanlah kemoterapi biasa, melainkan vaksin kanker.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara Kerja Vaksin Kanker: Melatih Imun Tubuh Membasmi Sel Jahat
Berbeda dengan kemoterapi atau radiasi yang menyerang sel kanker sekaligus merusak sel sehat di sekitarnya, vaksin kanker bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh (imun).
Vaksin ini melatih sel imun untuk mengenali, melacak, dan menghancurkan sel kanker secara mandiri. Metode ini menciptakan memori jangka panjang pada sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah kanker datang kembali (relapse) di masa depan.
"Ini adalah momen di mana kita benar-benar dapat menyembuhkan kanker dengan memanfaatkan vaksin kanker bersama terapi pendukung lainnya. Kita berada di ambang perubahan besar bagi penderita kanker," ujar Kristen Dahlgren, perwakilan dari Parker Institute for Cancer Immunotherapy kepada NYPost.
Dalam riset medis terkini, terdapat dua jenis vaksin kanker yang sedang dikembangkan oleh para peneliti dunia:
Vaksin Off-the-Shelf (Siap Pakai): Vaksin yang menargetkan mutasi genetik khusus yang dimiliki oleh banyak pasien dengan jenis kanker serupa. Jenis vaksin inilah yang disuntikkan kepada Molly Hones dan berhasil menyembuhkannya.
Vaksin Personalized (Personal): Dibuat khusus sesuai dengan urutan DNA tumor dari masing-masing individu. Karena mutasi sel kanker setiap orang berbeda-beda, dokter mengurutkan DNA tumor pasien terlebih dahulu sebelum meracik vaksin khusus tersebut.
Inovasi ini dipelopori oleh produsen farmasi seperti Moderna yang memanfaatkan teknologi mRNA. Vaksin kanker personal untuk melanoma (kanker kulit) telah menyelesaikan uji klinis Fase 3, dan kini tengah diuji coba untuk kanker paru-paru, kandung kemih, ginjal, pankreas, hingga lambung.
Meskipun menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, pembuatan vaksin kanker personal saat ini masih memakan biaya yang sangat mahal, mencapai lebih dari $100.000 (sekitar Rp 1,5 miliar lebih) per dosis.
Ilmuwan dunia kini berfokus menyederhanakan proses produksi agar vaksin kanker dapat diproduksi lebih cepat dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Para peneliti optimistis bahwa kombinasi antara vaksin kanker modern dan terapi imunologi lainnya akan mengubah peta pengobatan medis, menjadikan penyakit kanker yang sebelumnya mematikan kini dapat disembuhkan secara total.
(kna/kna)
