KDMP Tamanmartani Punya Klinik, 95 Persen Tenaganya Warga Setempat - Kompas
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tamanmartani memiliki unit usaha yang berbeda dibandingkan dengan KDMP lainnya, yakni memiliki unit usaha berupa klinik kesehatan.
Pendirian unit usaha klinik medis ini untuk menjawab keresahan warga Tamanmartani yang berada di Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dimana di lokasi ini jauh dari puskesmas dan hanya ada satu klinik kesehatan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua KDMP Tamanmartani Mawardi di sela-sela kunjungan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Selasa (13/10/2026).
Baca juga: LPDB Koperasi Sebut Pembiayaan ke KDMP Masih Minim

Lihat Foto
Mawardi mengatakan koperasi KDMP Tamanmartani resmi dibentuk pada bulan Mei 2025 melalui musyawarah desa tindak lanjut Inpres Nomor 9.
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN Via PT Agrinas Pangan, Ini Besarannya!
Koperasi ini melayani populasi penduduk yang cukup masif, yakni sekitar 17.422 jiwa yang tersebar di 22 pedukuhan, 108 RT, dan 80 RW.
Karena kondisi geografis kelurahan yang dinilai jauh dari jangkauan Puskesmas serta klinik kesehatan lainnya, pengurus Koperasi Tamanmartani melihat adanya potensi sekaligus kebutuhan mendesak untuk membangun fasilitas medis mandiri.
“Kok KDMP Tamanmartani berani bikin klinik? Itu juga dengan berbagai pertimbangan. Terutama dari sisi potensi yang ada, karena kami memang jauh dari Puskesmas, jauh dari klinik yang lain sehingga kita berpotensi untuk membuat itu,” ujar dia, Selasa (13/10/2026).
Baca juga: Mengembalikan Roh Koperasi dalam KDMP
Ia mengungkapkan, 95 persen tenaga kesehatan dan staf yang bertugas di klinik ini merupakan warga asli Tamanmartani.
“Tenaga profesional tersebut meliputi dua orang dokter umum, satu orang dokter gigi, perawat, apoteker, hingga staf rekam medis,” ujar dia.
Saat ini lanjut dia, Klinik Tamanmartani saat ini sedang berproses menjalani akreditasi.
Proses akreditasi ini sebagai syarat mutlak agar klinik dinilai layak dari sisi tata kelola SDM maupun administrasi, sekaligus menjadi tiket utama untuk dapat bekerjasama sebagai penyedia layanan BPJS Kesehatan.
Baca juga: Penikmat Kue Ekonomi MBG dan KDMP
Selain memiliki klinik kesehatan KDMP Tamanmartani juga memiliki unit usaha koperasi lainnya, mulai dari grosir sembako, gerai sarana produksi pertanian, hingga budidaya ikan nila.
Ia menambahkan saat awal berdiri KDMP Tamanmartani mendapatkan pinjaman sebesar Rp 750 juta dari LPDB.
“Pengajuan awal kami Rp 1,5 miliar tetapi baru bisa disetujui setengahnya,” kata dia.
Selain itu juga mendapatkan modal dari Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) sebesar Rp 80 juta yang secara khusus dialokasikan untuk pengadaan klinik.
Baca juga: KDMP dan KKMP: Aturan Baru Menkeu, Quasi-Decentralization
Sementara itu, Direktur Utama dan Hukum LPDB Kementerian Koperasi, Deva Rachman mengatakan LPDB saat ini sedang dalam proses menyiapkan 15 lembaga inkubator untuk memperkuat kapasitas usaha KDMP.
Ia menjelaskan pembinaan akan dilakukan 15 lembaga inkubator tersebut dengan menitikberatkan pada dua aspek yang utama yaitu tata kelola organisasi dan penyusunan rencana bisnis.
“Fokusnya adalah tata kelola yang baik, kedua adalah business plan-nya,” ujar dia.
Nantinya, 15 inkubator ini termasuk perguruan tinggi di dalamnya, akan mendampingi 15 koperasi melalui pembinaan selama 6 bulan.
Baca juga: Pemkab Jember Dorong KDMP yang Terkendala Modal Mulai dari Usaha Sederhana
LPDB mengarahkan program inkubasi untuk meningkatkan kesiapan koperasi dalam mengakses dana bergulir.
Rencana bisnis yang terukur dan tata kelola yang baik diharapkan dapat membantu koperasi dalam menggunakan pembiayaan untuk kegiatan produktif.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Gugat ke MK, Pasien Cuci Darah Minta Bantuan Iuran BPJS Berlaku Bagi Semua WNI
