Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Freeport Grasberg Kasus Lintas Peristiwa Spesial

    Nafsu Besar Freeport Serok Cuan Jumbo: Belajarlah dari Kasus Longsor Grasberg - Inilah

    3 min read


    Situasi penyelamatan tujuh karyawan di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave Freeport Indonesia. (Foto: Dok: PTFI)

    KecilBesar

    Awal September 2025, tambang bawah tanah Grasberg yang dikelola PT Freeport Indonesia (PTFI/Freeport) mendadak longsor. Proses evakuasinya hampir sebulan. Ditemukan 7 karyawan kontrak meregang nyawa karena tertimbun longsoran.

    Tiba-tiba terbetik niat untuk mengoptimalkan kembali tambang tersebut. Tentu saja karena Freeport tergiur cuan besar. Tidakkah langkah tersebut berisiko?

    Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli menegaskan, setelah mengalami longsor, tambang bawah tanah Grasberg yang dikelola Freeport, sedang menjalani fase pemulihan produksi.

    Diharapkan, produksinya bisa mencapai kapasitas puncak lagi, yakni sekitar 200.000 ton bijih tembaga per hari. Masalahnya, untuk mewujudkannya tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan maupun stabilitas tambang. Apalagi Grasberg merupakan tambang bawah tanah yang menggunakan metode block caving.

    “Memang harus lebih hati-hati, karena risiko tambang bawah tanah, lebih tinggi. Apalagi jika dikerjakan hanya untuk kejar produksi maksimal. Mitigasi risiko dan rekayasa harus diutamakan, agar tak terulang longsor,” kata Rizal di Jakarta, dikutip (8/10/2026).

    Tingkat risiko di Grasberg menjadi lebih tinggi karena aktivitas penambangannya berada di bawah sebuah bekas tambang terbuka (open pit) Grasberg. Rekayasa air tanah dan hidrologi harus menjadi perhatian utama.

    Karena, bekas bukaan tambang terbuka Grasberg, memiliki potensi menjadi wadah air yang sangat memengaruhi kondisi tambang bawah tanah di bawahnya. "Rekayasa penanganan hidrologi dan hidrogeologi harus diperkuat. Khususnya di area bekas open pit Grasberg.

    Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah masuknya air dan material basah ke area tambang bawah tanah yang berpotensi memicu kejadian lumpur basah atau longsoran lumpur seperti yang terjadi sebelumnya," ungkapnya.

    Selain aspek hidrologi, penguatan infrastruktur tambang bawah tanah juga perlu dipastikan berjalan optimal. "Artinya, tunnel, draw points, dan drainasenya harus diperkuat. Cek atau kontrol fungsi selalu dilakukan agar berfungsi dengan baik. Karena penting untuk mengalirkan air keluar area ambrukan," pungkasnya.

    Grasberg Diprediksi Pulih di Akhir 2027

    Beberapa waktu lalu, Freeport-McMoRan induk PTFI atau Freeport mengumumkan adanya kemajuan di tambang bawah tanah Grasberg yang dikelolanya di Indonesia.

    Telah terjadi peningkatan produksi secara bertahap, sesuai perhitungan mereka. Setelah Freeport melakukan berbagai upaya pemulihan pasca-insiden tanah longsor mematikan 7 orang serta yang mengganggu operasional perseroan pada tahun lalu.

    Freeport-McMoRan memperkirakan, tambang Grasberg akan mencapai kapasitas produksi 80 persen di pertengahan 2027. Dan, mendekati kapasitas penuh di akhir 2027.

    "Peningkatan sistem penanganan material di tingkat pengangkutan (haulage level) Grasberg Block Cave sedang berjalan menuju penyelesaian pada awal 2027, sementara persiapan terus dilakukan untuk target dimulainya kembali produksi dari Production Block 1S pada pertengahan 2027," ungkap Freeport seperti dikutip Reuters, Jumat (2/10/2026).

    Freeport memproyeksikan penjualan tembaga kuartal ketiga sebesar 750 juta pon dan total penjualan emas sekitar 100.000 ons—angka yang berada di bawah perkiraan bulan Juli 2026—akibat penundaan penjualan emas.

    Komentar
    Additional JS