Sejarah Sayur Bening Bayam, Kuliner Sederhana Solo yang Sudah Dikenal Sejak Abad ke-14 - Tribunnews
Sayur bening bayam juga acapkali jadi makanan untuk balita karena kandungan gizinya.
Ringkasan Berita:
- Sayur bening bayam merupakan lauk sederhana khas Solo yang bergizi, sering dikonsumsi masyarakat sehari-hari dan dikenal cocok untuk semua usia.
- Bayam berasal dari Persia kuno, menyebar ke Asia dan Eropa, lalu tercatat dalam Serat Centhini (1814–1823) sebagai bagian kuliner Jawa sejak abad ke-19.
- Sayur bening menjadi simbol ketahanan pangan, memanfaatkan bahan lokal yang murah, mudah ditanam, bergizi tinggi, dan diwariskan turun-temurun.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di meja makan masyarakat Solo, sayur bening bayam kerap hadir sebagai lauk sederhana.
Kuahnya jernih, rasanya ringan, dan tampilannya bersahaja.
Biasanya dipadukan dengan tempe goreng, ikan goreng, perkedel jagung, dan sambal.
Sayur bening bayam juga acapkali jadi makanan untuk balita karena kandungan gizinya.
Baca juga: Sejarah Risoles, Kuliner Eropa yang Kini jadi Jajanan Populer di Solo
Namun siapa sangka, di balik kesederhanaan itu tersimpan sejarah panjang lintas peradaban, dari Persia kuno hingga dapur-dapur Jawa, termasuk Solo.
Dari Persia Kuno ke Dunia: Perjalanan Panjang Bayam
Bayam ( Spinacia oleracea ) diperkirakan berasal dari wilayah Persia kuno (Iran) sekitar 2.000 tahun lalu.
Dari sana, bayam menyebar ke India, lalu pada 647 M masuk ke Tiongkok melalui Nepal.
Orang Tiongkok kala itu bahkan menyebutnya sebagai “sayuran Persia”.
Pada abad ke-8, bayam dibawa oleh pedagang Arab ke Sisilia dan kawasan Mediterania.
Baca juga: Sejarah Ayam Panggang Mbok Denok di Jatipuro, Kuliner Legendaris di Karanganyar
Catatan medis dan pertanian abad ke-10 hingga ke-11 menunjukkan bayam sudah dianggap tanaman penting karena kandungan gizinya.
Ilmuwan Arab Ibn Ḥajjāj bahkan menulis risalah khusus tentang bayam.
Masuk ke Eropa pada abad ke-14, bayam menjadi sayuran favorit karena mampu tumbuh di musim semi saat pasokan sayuran segar terbatas.
Di Inggris, bayam tercatat dalam buku masak tertua Forme of Cury (1390) dengan sebutan spinnedge.

Bayam Tercatat dalam Serat Centhini
Jejak bayam di Nusantara, khususnya Jawa, bukan cerita baru.
Sayur bening bayam telah dikenal setidaknya sejak awal abad ke-19. Bukti paling kuat tercatat dalam Serat Centhini, karya monumental yang ditulis pada 1814–1823 atas perintah Adipati Anom Amangkunegara III, yang kemudian naik takhta sebagai Sunan Pakubuwono V.
Serat Centhini kerap disebut sebagai Ensiklopedia Kebudayaan Jawa, karena memuat berbagai aspek kehidupan, mulai dari agama, sastra, arsitektur, hingga kuliner.
Dalam naskah setebal 12 jilid ini, kuliner mendapat porsi khusus dan menjadi objek kajian akademik hingga kini.
Baca juga: Sejarah Kue Lapis Legit, Kuliner Belanda yang Kini jadi Hidangan Khas Imlek di Solo
Sayur Bening dalam Tradisi Kuliner Keraton
Berdasarkan kajian dalam buku Kuliner Jawa dalam Serat Centhini (2014), tercatat ada 117 pupuh yang membahas kuliner Jawa, dengan sedikitnya 46 jenis makanan masih lestari hingga sekarang.
Salah satunya adalah sayur bening atau loncom.
Sayur bening dalam Serat Centhini digambarkan sebagai hidangan dari bayam, jagung manis, dan wortel, dibumbui bawang merah, garam, gula merah, serta temu kunci.
Kuahnya hanya air, tanpa santan, tanpa minyak. Kuliner ini bahkan disebut sebagai sajian di rumah Pangeran Tembayat, menunjukkan posisinya bukan sekadar makanan rakyat, tetapi juga hadir di lingkungan bangsawan Jawa.
Solo dan Warisan Sayur Bening
Di Solo, sayur bening bayam tumbuh sebagai bagian dari tradisi makan harian masyarakat.
Keberadaannya berdampingan dengan nasi, tempe, tahu, atau ikan asin mencerminkan filosofi makan Jawa: seimbang, sederhana, dan menyehatkan.
Tak heran jika hingga kini, sayur bening masih mudah dijumpai di warung makan rumahan di Solo.
Simbol Ketahanan Pangan Sejak Zaman Kolonial
Lebih dari sekadar sayur, sayur bening adalah simbol ketahanan pangan.
Sejak masa kolonial, masyarakat Jawa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam bayam, kangkung, labu siam, daun kelor, atau jagung.
Bahan-bahannya murah, mudah tumbuh, kaya gizi, dan cepat dimasak.
Tanpa minyak, tanpa teknik rumit, namun sarat vitamin A, C, K, zat besi, dan serat.
Sayur bening bukan makanan “darurat”, melainkan makanan yang menjaga tubuh tetap kuat.
Di beberapa daerah Jawa, sayur bening bahkan dikenal dengan nama lain seperti tegean, menandakan kedekatannya dengan kearifan lokal.
(*)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/warga-sudiroprajan-menggantung-lampion-sambut-imlek-2019.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sayur-bayam-labu.jpg)