Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BMKG Featured Jayapura Kabut Kasus Lintas Peristiwa Spesial

    BMKG Ungkap Kabut Menyelimuti Kota Jayapura Bukan karena Karhutla, tapi Terjadi Fenomena Ini - Viva

    4 min read

     

    Kabut mewarnai Kota Jayapura hingga menyebabkan jarak pandang terbatas

    Jayapura, VIVA – Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah V Jayapura Sulaiman mengatakan kabut yang menyelimuti Kota Jayapura, Papua, merupakan fenomena alam akibat kelembaban yang tinggi.

    Baca Juga

    "Kabut yang menyelimuti Kota Jayapura bukan merupakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan fenomena meteorologis yang terbentuk akibat keberadaan butiran air berukuran sangat kecil yang melayang di dekat permukaan bumi," kata Sulaiman di Jayapura, Senin (12/10/2026).

    Secara meteorologis, menurut dia, fenomena kabut dan kabut asap merupakan dua kondisi atmosfer yang berbeda, meskipun keduanya dapat menyebabkan penurunan jarak pandang dan membuat lingkungan terlihat kurang jelas.

    Baca Juga

    Ia menjelaskan, proses pembentukan kabut umumnya berkaitan dengan tingginya kelembapan udara, penurunan suhu udara hingga mendekati titik embun, serta kondisi angin yang relatif lemah.

    "Di wilayah tropis seperti Jayapura, kelembapan udara yang tinggi dapat mendukung proses pembentukan kabut, terutama pada malam hingga pagi hari," ujarnya.

    Baca Juga

    Menurut dia, kondisi topografi yang terdiri atas wilayah pesisir, perbukitan, dan lembah juga dapat mempengaruhi distribusi kelembapan, pergerakan udara, serta pembentukan kabut secara lokal.

    "Selain kabut, terdapat juga fenomena kekaburan udara atau haze, yaitu kondisi ketika partikel-partikel sangat kecil yang melayang di atmosfer mengurangi kejernihan udara. Partikel tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk debu, aerosol alami, aktivitas kendaraan, kegiatan industri, maupun proses pembakaran," katanya.

    Terkait kabut asap, kata Sulaiman, umumnya berkaitan dengan peningkatan konsentrasi partikel hasil pembakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan di mana partikel asap dapat terbawa angin hingga mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber pembakaran.

    Oleh karena itu, keberadaan kabut asap di suatu daerah tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran di wilayah tersebut.

    Berdasarkan informasi pemantauan BMKG pada tanggal 9 hingga 10 Oktober 2026, tidak terdeteksi titik panas atau hotspot di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan sekitarnya.

    Selanjutnya, berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 tanggal 11 Oktober 2026, sebaran kabut asap terpantau di sejumlah wilayah di Tanah Papua, namun untuk Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura tidak termasuk wilayah yang terindikasi terdampak berdasarkan analisis tersebut.

    Hasil pemantauan ini memberikan gambaran bahwa belum terdapat indikasi kuat yang menghubungkan kondisi berkabut di Kota Jayapura dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan berdasarkan data yang tersedia, meskipun tidak terdeteksinya titik panas tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh sumber asap tidak ada.

    Pengamatan satelit memiliki keterbatasan, antara lain akibat tutupan awan, waktu pengamatan, dan intensitas sumber panas. Untuk memastikan penyebab berkurangnya jarak pandang di Kota Jayapura, diperlukan analisis lebih lanjut terhadap sejumlah parameter meteorologi, seperti kelembapan relatif, suhu udara, kecepatan dan arah angin, jarak pandang horizontal, serta kondisi atmosfer pada waktu kejadian.

    Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak langsung mengaitkan setiap kejadian berkurangnya jarak pandang dengan karhutla dan bagi pengguna kendaraan juga perlu meningkatkan kewaspadaan apabila jarak pandang menurun, terutama pada pagi hari dan di wilayah perbukitan.

    "BMKG terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer melalui pengamatan meteorologi dan informasi satelit untuk mendukung penyampaian informasi cuaca yang akurat kepada masyarakat," kata Sulaiman. (Ant)

    Mendagri, Tito Karnavian

    Karhutla di Indonesia Diprotes Malaysia, Mendagri Tito: Tak Bisa Diatasi oleh Satu Pihak

    Tito menjelaskan kebanyakan lahan yang terbakar di Indonesia merupakan lahan gambut. Ia menilai lahan gambut harus dipadamkan dengan jumlah volume air yang besar.

    img_title

    VIVA.co.id

    12 Oktober 2026

    Komentar
    Additional JS