Dugaan Perundungan Berujung Kematian Siswa SD, Deretan Kejanggalan yang Ditemukan Anggota DPR Ini - Kompas TV
Kompas.tv - 10 Oktober 2026, 09:41 WIB

PEMALANG, KOMPAS.TV - Anggota DPR Fraksi Golkar Ahmad Doli Kurnia mengungkap kejanggalan yang ditemukannya terkait kasus dugaan perundungan berujung kematian siswa SD di Pemalang, Jawa Tengah.
Ia yang sempat turun langsung ke Pemalang mengatakan kejanggalan pertama adalah mengenai informasi tentang terduga pelaku.
"Kejanggalannya adalah dua informasi tentang pelaku. Kalau yang kita dapatkan keterangan dari keluarga dan itu pengakuan dari almarhum sebelum meninggal, itu ada tiga orang," ujarnya dalam dialog Kompas Malam KompasTV, Jumat (9/10/2026).
"Nah, ternyata dari pihak pemerintah daerah dan kemudian dari pihak kepolisian, dua orang."
Tidak hanya itu, Doli mengatakan ada juga kejanggalan dari pihak sekolah. Menurutnya, pihak sekolah seolah-olah seperti ingin menutupi peristiwa tersebut. Politikus Golkar itu lantas menyinggung tindak lanjut terhadap kepala sekolah.
"Bahkan yang lebih mengenaskan, baru saya dapat berita bahwa si kepala sekolah itu betul memang dinonaktifkan, tapi ternyata dipindahkan jadi kepala sekolah lagi," ungkapnya.
Baca Juga: Dugaan Perundungan Berujung Kematian Siswa SD di Pemalang, 2 ABH Dititipkan ke LPKS
Doli menilai tidak ada hukuman kepada kepala sekolah atas terjadinya peristiwa dugaan perundungan berujung kematian siswa di sekolah yang dipimpinnya.
Menurutnya, tindakan itu berarti pemerintah daerah main-main menyikapi kasus ini.
Kejanggalan lainnya, Doli menyinggung mengenai korban yang sakit lama sebelum meninggal.
Dugaan Malpraktik
"Si almarhum ini meninggal itu 19 hari dalam penderitaan. Pihak rumah sakit, terutama rumah sakit daerah, ada semacam dugaan menurut saya, ini perlu ditelusuri juga, ada malpraktik," ujarnya.
Ia menilai pendekatan penanganan yang dilakukan rumah sakit kurang tepat.
Selain itu, Doli mengungkap, ketika keluarga membawa korban sempat ditanya soal BPJS.
"Ketika disampaikan ini karena pemukulan, pihak rumah sakit mengatakan 'kalau bisa jangan masuk rumah sakit dengan ada kejadian pemukulan karena enggak dapat BPJS,'" tuturnya.
Baca Juga: Kasus Dugaan Perundungan Berujung Kematian Siswa SD di Pemalang, Kuasa Hukum Ungkap Motifnya
Ia mengatakan dugaan tersebut perlu diklarifikasi dan dibuktikan agar lebih memperjelas kasus.
Lebih lanjut, Doli berharap kasus dugaan perundungan berujung kematian anak SD di Pemalang itu bisa terungkap.
Ia berharap semua pihak yang terlibat untuk membuka fakta kejadian tersebut seterang-terangnya.
"Jangan ada yang ditutup-tutupi, mulai dari pihak sekolah, kemudian rumah sakit, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah," ucapnya.
Ringkasan Berita:
- Anggota DPR Golkar Ahmad Doli Kurnia temukan kejanggalan dalam kasus perundungan siswa SD di Pemalang, termasuk perbedaan jumlah pelaku yang dilaporkan keluarga (3 orang) dan polisi (2 orang).
- Kepala sekolah yang diduga terlibat tidak dihukum serius, hanya dipindahkan jabatan, sementara dugaan malpraktik rumah sakit muncul terkait penanganan korban selama 19 hari sebelum meninggal.
- Doli minta transparansi penuh dari sekolah, rumah sakit, kepolisian, dan pemerintah daerah agar kasus perundungan dan kematian siswa di Pemalang terungkap tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Sumber : Kompas TV