Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Jepang Kuliner Mochi Spesial

    Fakta Unik Makanan Tertua di Jepang yang Kini Mendunia, Apakah Itu? - Viva

    6 min read


    Ilustrasi mochi

    VIVA – Jepang dikenal memiliki beragam kuliner tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad. Namun, tahukah Anda bahwa salah satu makanan yang masih populer hingga kini ternyata termasuk dalam jajaran makanan tertua di Negeri Sakura? Makanan ini bahkan telah menjadi bagian dari berbagai tradisi dan perayaan masyarakat Jepang, sebelum akhirnya berkembang menjadi camilan dengan beragam bentuk dan rasa yang dikenal hingga ke berbagai negara.

    Baca Juga

    Makanan itu adalah mochi yang merupakan salah satu makanan Jepang yang mudah dikenali berkat teksturnya yang kenyal dan bentuknya yang khas. Saat ini, mochi tidak hanya ditemukan sebagai makanan tradisional dalam berbagai perayaan di Jepang, tetapi juga berkembang menjadi camilan dengan beragam bentuk, isian, dan rasa yang dikenal di berbagai negara.

    Di balik popularitasnya, mochi memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan budaya pangan masyarakat Jepang. Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang atau Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) menyebut mochi sebagai salah satu bentuk makanan olahan tertua di Jepang. Sejarah makanan berbahan beras sendiri telah berlangsung sejak zaman Jomon atau Yayoi, sementara bentuk kue beras yang mendekati mochi masa kini berkembang kemudian.

    Baca Juga

    Secara umum, mochi dibuat dari beras ketan atau mochigome yang dikukus, kemudian ditumbuk hingga menghasilkan adonan yang lengket dan elastis. Adonan tersebut selanjutnya dibentuk menjadi berbagai ukuran dan bentuk. Proses menumbuk beras inilah yang dikenal sebagai mochitsuki, sebuah tradisi yang hingga kini masih dilakukan dalam sejumlah perayaan di Jepang.

    Mochi dan Tradisi Tahun Baru di Jepang

    Baca Juga

    Mochi memiliki hubungan yang kuat dengan perayaan Tahun Baru. Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah kagami mochi, yaitu dua mochi berbentuk bulat yang ditumpuk dan biasanya dihiasi dengan buah jeruk daidai di bagian atasnya.

    Menurut MAFF, tradisi menyajikan kagami mochi sebagai persembahan untuk Toshigami, atau dewa yang dipercaya datang saat Tahun Baru, diperkirakan mulai berkembang sejak zaman Muromachi. Bentuk bulat pada mochi tersebut juga memiliki makna simbolis, antara lain harapan untuk kehidupan yang harmonis dan panjang umur.

    Selain sebagai persembahan, mochi juga menjadi bagian dari hidangan Tahun Baru. Salah satunya adalah ozoni, sup yang berisi mochi dan bahan-bahan lain. Hidangan tersebut dikonsumsi di berbagai wilayah Jepang, tetapi bahan, bentuk mochi, kuah, hingga cara penyajiannya dapat berbeda-beda menurut daerah dan keluarga.

    Tradisi tersebut menunjukkan bahwa mochi sejak lama tidak sekadar diposisikan sebagai makanan ringan. Makanan berbahan beras ini juga berkaitan dengan berbagai momentum budaya, doa, perayaan, serta harapan masyarakat Jepang.

    Dari Makanan Perayaan Menjadi Bagian dari Kuliner Sehari-hari

    Seiring perkembangan budaya pangan Jepang, penggunaan mochi semakin beragam. Mochi tidak hanya hadir dalam ritual atau perayaan tertentu, tetapi juga berkembang menjadi berbagai makanan dan kudapan yang dikonsumsi sehari-hari.

    Variasi berbahan mochi dapat ditemukan di berbagai daerah Jepang. Kementerian Pertanian Jepang mencatat adanya beragam hidangan tradisional yang menggunakan mochi dengan bahan pendamping mulai dari kacang merah, wijen, kenari, hingga kacang kedelai hijau atau zunda. Di wilayah Ichinoseki, misalnya, terdapat tradisi mochi calendar, yaitu kebiasaan mengonsumsi hidangan berbahan mochi dalam lebih dari 60 kesempatan sepanjang tahun yang berkaitan dengan pergantian musim maupun berbagai peristiwa.

    Mochi juga dapat diolah menjadi makanan dengan tekstur yang berbeda. Salah satu contohnya adalah kakimochi, yakni mochi yang dikeringkan lalu dipanggang atau digoreng. Menurut MAFF, tradisi kakimochi berkaitan dengan kebiasaan memanfaatkan sisa kagami mochi setelah perayaan Tahun Baru. Mochi yang telah mengeras dapat dipecah atau dipotong, kemudian dikeringkan untuk selanjutnya diolah menjadi makanan ringan.

    Perkembangan tersebut memperlihatkan kemampuan mochi untuk beradaptasi dengan kebiasaan makan masyarakat. Dari makanan yang memiliki nilai simbolis, mochi kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya camilan Jepang.

    Kenapa Mochi Bisa Mendunia?

    Popularitas mochi di luar Jepang tidak terlepas dari karakteristiknya yang berbeda dari kebanyakan kue atau camilan. Teksturnya yang kenyal menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali, sementara rasa dasar yang relatif netral membuatnya dapat dipadukan dengan berbagai bahan.

    Dalam perkembangannya, mochi hadir dalam banyak bentuk, mulai dari mochi tradisional dengan isian kacang merah hingga kreasi modern dengan cokelat, wijen, buah, dan berbagai bahan lainnya. Bentuk penyajiannya pun semakin beragam sehingga dapat menyesuaikan dengan kebiasaan konsumen di berbagai negara.

    Karakter tersebut membuat mochi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari kuliner tradisional Jepang, tetapi juga sebagai makanan yang dapat terus dikembangkan mengikuti selera zaman. Perpaduan antara tekstur khas dan fleksibilitas rasa menjadi salah satu alasan makanan ini tetap relevan di tengah perkembangan tren kuliner global.

    Di Indonesia sendiri, mochi semakin mudah ditemui dalam berbagai bentuk dan varian. Salah satunya adalah Mooochii, brand mochi kering yang baru-baru ini meraih penghargaan Top Halal Award 2026. Berdasarkan pemberitahuan IHATEC Marketing Research, Mooochii memperoleh nilai tertinggi dalam kategori produk mochi dalam survei Top Halal Index 2026 yang melibatkan 2.100 responden di enam kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Balikpapan, melalui wawancara tatap muka pada Mei 2026.
    Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perkembangan produk mochi di pasar Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana makanan yang memiliki akar panjang dalam tradisi Jepang terus mengalami adaptasi dalam bentuk camilan modern.

    Dengan sejarah yang telah berlangsung selama berabad-abad, mochi memperlihatkan bagaimana sebuah makanan tradisional dapat bertahan sekaligus berkembang mengikuti perubahan zaman. Dari bagian penting dalam perayaan dan tradisi Jepang, mochi kini telah menjadi camilan yang dikenal lebih luas dan terus menghadirkan berbagai inovasi rasa maupun bentuk.

    Jepang hadirkan pengalaman makan sushi di atas bus

    Selera Wisata Berbeda, Makan Sushi di Atas Bus

    Pengalaman wisata unik ditawarkan untuk wisatawan di Jepang. Paket wisata baru yang ditawarkan adalah  pengalaman makan sushi di atas bus wisata bertingkat dua.

    img_title

    VIVA.co.id

    10 Oktober 2026

    Komentar
    Additional JS