Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Pupuk Subsidi Spesial

    Stok Pupuk Subsidi di Madiun Raya Capai 31 Ribu Ton, Dipastikan Aman Hadapi Musim Tanam - Tribunnews

    8 min read


    Tribun Jatim/Sofyan Arif Candra Sakti A-A+ PUPUK - Petani mengaplikasikan pupuk di Desa Dimong, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026). Stok pupuk petani Madiun Raya dipastikan aman. 
    Ringkasan Berita:
    • Stok pupuk subsidi Madiun Raya mencapai 31.267 ton per 7 Oktober 2026, sedangkan stok Jawa Timur mencapai 251.954 ton.
    • Realisasi penyaluran pupuk subsidi Madiun Raya mencapai 77 persen, sementara serapan Petroganik di wilayah tersebut mencapai 61 persen dari alokasi 55.183 ton.
    • Petani tidak wajib menebus pupuk dengan sistem paket. Pupuk Indonesia mendorong pemupukan berimbang, termasuk penggunaan pupuk organik untuk membantu menjaga kesuburan tanah.

    Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

    TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Petani di wilayah Madiun Raya tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027.

    PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan stok pupuk bersubsidi tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani sesuai alokasi yang telah ditetapkan pemerintah.

    Regional CEO 3 Pupuk Indonesia, Eko Suroso, menyebutkan stok pupuk bersubsidi di Madiun Raya mencapai 31.267 ton per 7 Oktober 2026.

    Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Pacitan, Ponorogo, Magetan, dan Ngawi.

    Dari jumlah tersebut, stok terdiri atas 16.433 ton Urea, 10.886 ton NPK Phonska, 19 ton NPK Kakao, 3.764 ton pupuk organik Petroganik, dan 166 ton ZA.

    Rekomendasi Untuk Anda

    Sementara itu, stok pupuk bersubsidi di Jawa Timur mencapai 251.954 ton. Rinciannya meliputi 145.489 ton Urea, 90.294 ton NPK Phonska, 348 ton NPK Kakao, 11.913 ton Petroganik, 2.724 ton ZA, dan 1.187 ton SP-36.

    Stok tersebut dapat ditebus oleh petani yang terdaftar sesuai alokasi masing-masing.

    Ketersediaan pupuk diharapkan mendukung produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi, selama musim tanam Oktober-Maret.

    “Kami berharap petani memanfaatkan stok pupuk bersubsidi ini dengan baik. Tidak serta-merta mengaplikasikan pupuk hanya berdasarkan pengalaman, tapi sesuai kebutuhan tanaman,” kata Eko, Sabtu (10/10/2026).

    Menurutnya, penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman diharapkan dapat menjaga kesuburan tanah sekaligus mendukung hasil panen yang optimal.

    Baca juga: Desil Tak Sesuai Kondisi Riil, Pemkot Madiun Ajak BAZNAS Kolaborasi untuk Intervensi RTLH

    Realisasi Penyaluran Pupuk Subsidi di Madiun Raya Capai 77 Persen

    Hingga awal Oktober 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Madiun Raya telah mencapai 77 persen atau sebanyak 237.385 ton dari total alokasi 306.864 ton.

    Adapun realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Timur mencapai 78 persen, yakni 1.699.530 ton dari alokasi 2.182.522 ton sepanjang 2026.

    Pupuk Indonesia juga mendorong petani menerapkan pemupukan berimbang dengan tidak hanya memperhatikan kebutuhan tanaman, tetapi juga kondisi dan kesuburan tanah.

    Senior Manager Regional 3A Pupuk Indonesia, Wawan Arjuna, mengungkapkan sekitar 73 persen lahan pertanian di Indonesia membutuhkan bahan organik untuk memenuhi unsur hara tanah. Pemenuhan unsur hara tersebut penting bagi kesehatan tanaman dalam jangka panjang.

    Menurut Wawan, pupuk organik Petroganik memiliki kandungan karbon organik atau C-Organik minimal 15 persen. Penggunaannya dapat membantu memperbaiki kondisi tanah sekaligus mendukung efisiensi pemakaian pupuk.

    “Kandungan C Organik pada Petroganik cukup tinggi, minimal 15 persen. Pengaplikasian Petroganik dapat memperbaiki media tanah, sekaligus mendukung efisiensi penggunaan pupuk. Karena itu kita dorong petani tidak hanya memberi makanan untuk tanamannya, tapi juga memperbaiki tanahnya,” ujarnya.

    Penyerapan Petroganik di Madiun Raya Capai 61 Persen

    Pemerintah mengalokasikan pupuk Petroganik sebanyak 146.459 ton untuk 2026. Hingga 7 Oktober 2026, penyalurannya mencapai sekitar 68 persen atau 99.771 ton.

    Khusus wilayah Madiun Raya, alokasi Petroganik ditetapkan sebanyak 55.183 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33.732 ton atau sekitar 61 persen telah terserap.

    Wawan mengapresiasi kesadaran petani di Madiun Raya dalam memanfaatkan pupuk organik Petroganik. Menurutnya, alokasi yang cukup besar di wilayah tersebut menunjukkan pentingnya penggunaan pupuk organik untuk mendukung kesuburan tanah.

    “Di musim tanam ini kami berharap petani bisa terus mengoptimalkan penebusan pupuk bersubsidi, khususnya Petroganik. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian ke depan,” tandasnya.

    Wawan juga menegaskan bahwa petani terdaftar memperoleh alokasi pupuk bersubsidi sesuai data dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Petani tidak diwajibkan menebus pupuk bersubsidi melalui sistem paket.

    Petani dapat menebus pupuk sesuai hak dan alokasi yang tercatat. Sementara itu, pupuk organik menjadi salah satu komponen pendukung dalam penerapan pemupukan berimbang.

    “Tidak ada konsep seperti itu (penebusan paketan, Red). Konsepnya bagaimana petani bisa beralih menggunakan pemupukan berimbang,” ucap Wawan.

    Petani Nilai Petroganik Bantu Menjaga Kesuburan Tanah

    Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun, Suharno, menyebut penggunaan Petroganik memberikan manfaat bagi petani, terutama dalam menjaga kesuburan tanah agar tetap produktif dan mampu menghasilkan panen yang optimal.

    Ia menilai bentuk Petroganik yang berupa butiran atau granula dalam kemasan memudahkan petani saat mengaplikasikannya di lahan pertanian.

    Kondisi tersebut berbeda dengan cara yang dahulu banyak dilakukan petani, yakni membawa kotoran sapi ke sawah untuk menambah unsur organik tanah.

    Suharno menambahkan, berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan bahan organik tanah di Madiun Raya saat ini tersisa sekitar 2 hingga 2,5 persen. Menurutnya, angka tersebut masih perlu ditingkatkan agar produktivitas lahan tetap terjaga.

    Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya perbaikan dalam jangka panjang, kualitas tanah dapat terus menurun dan berisiko mengganggu produktivitas pertanian.

    “Alhamdulillah ketika Petroganik diaplikasikan memberikan hasil optimal bagi produktivitas pertanian. Testimoni petani juga tidak ada yang jelek,” kata Suharno.

    Penggunaan pupuk organik bersama pupuk lainnya sesuai kebutuhan tanaman diharapkan dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian di Madiun Raya.

    Komentar
    Additional JS