Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Lintas Peristiwa Spesial

    Update Karhutla 12 Oktober 2026: 17.108 Titik Panas Terdeteksi, Kalimantan Tengah Terbanyak - Kompas

    6 min read

     

    KOMPAS.com - Titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Indonesia mencapai 17.108 titik pada Senin (12/10/2026).

    Jumlah tersebut berkurang 2.058 titik dibandingkan dengan periode pemantauan sebelumnya pada Minggu (11/10/2026), yang mencapai 19.166 titik.

    Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) SiPongi+ Kementerian Kehutanan (Kemenhut), data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA dalam pemantauan 24 jam terakhir. Data diakses pada Senin pukul 13.05 WIB.

    Baca juga: Pemerintah Didorong Percepat Penanganan Karhutla dan Lindungi Warga Terdampak

    Dari total 17.108 titik panas yang terdeteksi, sebanyak 708 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 16.174 titik berkategori sedang, dan 226 titik berkategori rendah.

    Update Karhutla Kalimantan: Asap sampai Makassar, Hotspot Turun 605 Titik

    Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi tiga kategori, yakni rendah pada rentang 0–29 persen, sedang 30–79 persen, dan tinggi 80–100 persen.

    Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin kuat indikasi bahwa titik tersebut merupakan anomali suhu yang perlu diperiksa lebih lanjut sebagai kemungkinan kebakaran.

    Baca juga: Karhutla Kalimantan Jadi Sorotan Dunia, Ribuan Titik Panas Terdeteksi Satelit NASA

    Update sebaran titik panas di Indonesia

    Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 5.938 titik.

    Papua Selatan berada di urutan berikutnya dengan 3.496 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 1.280 titik.

    Baca juga: Pejabat Daerah Diminta Lebih Peka dan Berempati kepada Warga Terdampak Karhutla

    Titik panas juga terdeteksi di sejumlah provinsi lain, antara lain Papua Barat sebanyak 860 titik, Kalimantan Timur 732 titik, Kalimantan Selatan 623 titik, Kalimantan Barat 515 titik, dan Lampung 243 titik.

    Titik panas merupakan koordinat lokasi yang menunjukkan suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan area di sekitarnya.

    Karena itu, jumlah hotspot tidak sama dengan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang telah terkonfirmasi.

    Meski demikian, kumpulan titik panas yang berdekatan di suatu wilayah dapat menjadi indikasi adanya kebakaran.

    Data hasil deteksi satelit ini dapat digunakan untuk memantau potensi karhutla di wilayah yang luas, tetapi tetap perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan atau verifikasi lebih lanjut.

    Baca juga: Kebakaran TPA Putri Cempo Lumpuhkan 70 Persen Pengelolaan Sampah Solo, Pakar Ingatkan 3 Potensi Masalah Baru

    Kualitas udara di sejumlah kota Indonesia

    Sementara itu, Palembang, Sumatera Selatan, menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia berdasarkan data IQAir pada 12 Oktober 2026.

    Palembang mencatatkan skor indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) sebesar 283, yang masuk kategori sangat tidak sehat.

    Skor tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Palembang berada pada tingkat yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.

    Baca juga: BMKG Ingatkan Potensi Sebaran Asap di Sultra 7-9 Oktober, 17 Wilayah Diprediksi Terdampak

    Namun, masyarakat secara umum juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan jika terpapar polusi udara pada tingkat tersebut.

    Pontianak, Kalimantan Barat, menempati posisi berikutnya dengan skor AQI 241, yang juga masuk kategori sangat tidak sehat.

    Adapun Banten mencatatkan skor 175 dan Pekanbaru, Riau, sebesar 163. Kedua wilayah tersebut masuk kategori tidak sehat.

    Baca juga: Kasus Influenza di Lampung Naik Hampir 3 Kali Lipat, 669 Kasus hingga Oktober, Ada yang Meninggal

    Dalam skala AQI Amerika Serikat yang digunakan IQAir, skor 151–200 dikategorikan tidak sehat, sedangkan skor 201–300 termasuk sangat tidak sehat.

    Semakin tinggi skor AQI, semakin buruk kualitas udara dan semakin besar potensi dampaknya terhadap kesehatan.

    Masyarakat di wilayah dengan tingkat polusi tinggi disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung.

    Jika harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dapat menjadi salah satu langkah perlindungan.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS